Kamis, 13 Desember 2012

Sejarah Merbau Bersiram Darah

Merbau (Mb)–Bicara tentang cerita rakyat pasti tidak ada habisnya. Cerita masa lalu yang bukan hanya dongeng sebelum tidur, tetapi sejarah yang bisa dijadikan pedoman hidup dimasa depan. Kali ini cerita yang akan diangkat berasal dari Desa Merbau Kecamatan Pulau Merbau.

Pada masa kerajaan kecil Negeri Merbau dibawah pimpinan Datuk Setia Indra (Orang Kaya Saman/OK saman) yang dinobatkan oleh Sultan Siak Sri Indra Pura pada tahun 1304 H (1882 M) di pesisiran Pulau Bengkalis dan Pulau Padang sering terjadi perompakan oleh bajak laut yang menyerang para nelayan sehingga banyak korban berjatuhan. Dengan tegas OK Saman mengutus Panglima Abbas yang juga termasuk orang yang berpengaruh besar didalam kerajaan kecil di Negeri Merbau bersama teman-temannya untuk memusnahkan para bajak laut yang sedang merajalela di Pesisir senggoro (Pulau Bengkalis) dan sekitarnya.

Setelah lebih dari seminggu atas kepergian Panglima Abbas dan teman-temannya. Tidak ada  kabar berita yang terdengar oleh rakyat kerajaan kecil Negeri Merbau tentang keberhasilan mereka dalam menumpaskan para bajak laut, ternyata mereka bersembunyi di suatu tempat dan tidak pergi berperang. Panglima Abbas dan teman-temannya melakukan rencana lain dengan cara pulang ke Merbau membawa kekalahan.

Panglima Abbas merencanakan seperti itu agar Panglima Ali yang juga termasuk orang yang berpengaruh besar didalam kerajaan kecil di Negeri Merbau pergi melawan bajak laut sehingga Panglima Abbas dapat merebut Jamilah si gadis desa dari tangan Panglima Ali yang merupakan kekasihnya.

Panglima Abbas dan teman-temannya yang akan diberi imbalan jika cita-cita Panglima Abbas terwujud tersebut pulang dalam keadaan seperti orang tersiksa dengan membawa berita duka atas kekalahan melawan bajak laut untuk dilaporkan kepada OK Saman. Mendengar laporan Panglima Abbas, OK Saman mengutus Panglima Ali untuk memusnahkan para bajak laut dari muka bumi.

Panglima Ali menanggapi atas perintah dari OK Saman. “Kalau Datuk memerintahkan hamba harus berangkat, hamba dan teman-teman akan mempersiapkan persenjataan untuk berangkat menumpaskan lanun dengan sekuat tenaga kami, baiklah kalau begitu besok setelah subuh, hamba sudah bertolak meninggalkan tanah Merbau menuju pesisir selatan pantai Pulau Bengkalis dan sekitarnya.” Kata Panglima Ali.

Didalam perjalanan Panglima Ali dan teman-temannya membuat strategi dengan cara menyamar sebagai nelayan penangkap ikan dan menyamar sebagai pedagang. Terjadi peperangan di Tanjung Sekodi antara bajak laut dan Panglima Ali dan teman-temannya sehingga pihak musuh banyak yang gugur dan yang masih hidup menyerah kalah. Sebagai bukti kemenangan dan bebas dari bajak laut, Panglima Ali dan teman-temannya menanam pohon yang bernama 1000 perepat di Tanjung Sekodi.

Dari Tanjung Sekodi sampai ke Tanjung Jati Panglima Ali dan teman-temannya berhasil melawan bajak laut. pohon 1000 perepat habis ditanam disetiap daerah yang sudah mereka jelajahi. Panglima Ali dan teman-temannya pulang membawa kemenangan.

Dalam perjalanan pulang. Angin begitu kencang datang dari arah barat sehingga perahu Panglima Ali dan teman-temannya terdampar di pohon bakau, layar perahunya robek tertusuk ranting pohon bakau di pantai Tanjung Padang sehingga membuat Panglima Ali murka karena sakit hatinya ali bersumpah pada pohon bakau tanjung ini menjadi padang (artinya tidak akan tumbuh tinggi selamanya).

Dengan perasaan marah Panglima Ali dan teman-temannya terus melakukan perjalanan. Tiba di Bandul Panglima Ali dan teman-temannya kehabisan makanan dan air minum, Panglima Ali memerintahkan teman-temannya untuk naik ke darat dan mencari air minum, karena penduduk Bandul beranggapan bahwa mereka adalah bajak laut, penduduk Bandul melarikan diri karena ketakutan.

Agar tidak meresahkan penduduk Bandul, teman-temannya melaporkan apa yang telah terjadi kepada Panglima Ali. Panglima Ali dengan hati yang kesal naik ke darat dan menemukan perigi tua, disitulah Panglima Ali dan teman-temannya mandi dan minum dengan air seadanya. Dengan hati yang kesal Panglima Ali berkata “Beginilah nasib kita jadinya, air saja dilokekkan (pelit/kikir) maunya orang-orang ini air periginya itu kering semuanya seperti perigi dagang ini.”

Panglima Ali dan teman-temannya kembali melanjutkan perjalanan pulang, beberapa hari kemudian mereka tiba di Merbau. Masyarakat Merbau menjadi bingung karena sebelumnya Panglima Abbas memberitahu kepada semua orang bahwa Panglima Ali dan teman-temannya telah tewas dalam peperangan melawan bajak laut. Panglima Ali dan teman-temannya pulang kerumah masing-masing, di dalam kegelapan malam Panglima Ali tiba di rumahnya yang hening dan sunyi seperti rumah tidak berpenghuni.

Panglima Ali mengucapkan salam berulang kali kepada ibunya yang hanya tinggal sendiri di rumah, Panglima Ali terpaksa mengetuk pintu dengan keras karena salamnya tidak dijawab oleh ibunya yang hanyut dilamun ombak kepiluan. “Ibu !!! Ali pulang”. Kata Panglima Ali, ibunya berlari membuka pintu dan memeluk Panglima Ali dengan rintihan. “engkau telah selamat anakku”. Kata ibunya sambil menangis. “tidak perlu ibu menangis lagi, Ali kan sudah selamat bersama teman-teman, semuanya tentu karena do’a ibu juga”. Kata Panglima Ali.

Ibunya segera memasak untuk makan malam Panglima Ali, dengan hati yang penuh dengan bimbang dan tanda tanya, dalam hati ibunya berkata “apa yang  akan terjadi jika Panglima Ali tahu bahwa Jamilah akan menikah dengan panglima Abbas sahabatnya yang hanya tinggal 3 hari lagi”.

Saat Panglima Ali makan malam bersama ibunya yang tidak banyak mengajak bicara, karena takut terpancing pertanyaan yang sulit ibunya untuk menjawab, sehingga ibunya berkata : “Ali ! mungkin engkau telah penat, beristirahatlah tentu engkau pagi hari mau bertemu OK Saman.”  Mendengar perintah ibunya Panglima Ali segera tidur.

Dipagi harinya Panglima Ali duduk termenung karena Panglima Ali bermimpi bahwa permata cincinnya hilang tidak tahu kemana. Ibunya sedang mengamati tingkah laku anaknya yang malang itu, daripada terus menyimpan rahasia akhirnya ibu Panglima Ali mengatakan yang sebenarnya. “Ali ! jamilah 3 hari lagi akan menikah dengan Panglima Abbas ! sudah tahukah engkau anakku?”. Tanya ibunya. “Baguslah, awak ini apalah mak!” . Jawab Panglima Ali. Dalam hati Panglima Ali berkata “aku tidak rela kau (Panglima Abbas) merampas jamilah dari tanganku, engkau memang licik menggunting dalam lipatan, aku tidak akkan pernah tinggal diam terkecuali aku sudah tidak bisa bernafas lagi”. Dengan hati yang kesal Panglima Ali duduk sambil menggenggam segumpal tanah liat kuning dan dibuatnya membentuk sebilah keris yang panjang yang diberi nama Tameng Desa.

Panglima Ali tetap tegar dihadapan OK Saman untuk melapor hasil dari perjalanan melawan bajak laut. Panglima Ali dan teman-temanya disambut gembira oleh OK Saman dengan hati yang penuh tanda tanya bahwa dari mana Panglima Abbas mendapat berita bahwa Panglima Ali dan teman-temanya sudah gugur di medan perang.

Rahasia kepulangan Panglima Ali sungguh ketat dijaga, sehingga Jamilah tidak tahu bahwa Panglima Ali masih hidup. Jamilah yang berselimutkan duka dan juga telah termakan bujuk rayu Panglima Abbas untuk dijadikan istrinya. Seperti memakan buah simalakama (dimakan mati mak, tidak dimakan mati bapak) Jamilah dengan terpaksa menikah karena ingin jadi anak yang berbakti kepada ibunya.

Dihari pernikahan antara Panglima Abbas dengan Jamilah, tiba-tiba Panglima Ali muncul sehingga membuat Jamilah jatuh pingsan dan para undangan menjadi heboh. Panglima Ali yang sudah merasa tercoreng arang diwajahnya mengajak bertarung dengan Panglima Abbas. Panglima Abbas yang sudah siap menerima semua resiko yang akan dihadapinya menerima tantangan tersebut.

Perkelahian pun dimulai antara Panglima Ali dengan Panglima Abbas. Seluruh pelosok negeri Merbau heboh dan bimbang sehingga diketahui oleh OK Saman dan segera menuju ke pesta yang berujung pertikaian. Korban berjatuhan dimana-mana tidak tahu siapa yang membela Panglima Ali dan siapa yang berpihak Panglima Abbas. Merbau pun bersimbah darah berserakan akibat dari perkelahian yang memihak bagaikan sudah terencana.

Dari kejadian itu Jamilah menjadi korban yang tidak berdosa oleh keris milik panglima Abbas yang dengan sengaja menusuk perut Jamilah. Melihat kekasih hatinya telah pergi Panglima Ali bertambah marah seperti raksasa yang mengamuk sehingga Panglima Abbas kualahan dalam menghadapinya. Tanpa disadari darah mengalir deras dari perut Panglima Abbas karena keris Tameng Desa milik Panglima Ali yang dibuat khusus dari tanah liat kuning untuk membunuh Panglima Abbas sehingga Panglima Abbas menjadi lemah tidak berdaya, kesempatan itu tidak disia-siakn oleh Panglima Ali. Dia pun segera menusuk tepat dijantung Panglima Abbas sehingga Panglima Abbas tewas ditangan Panglima Ali.

Melihat kedatangan OK Saman yang sudah lama menyaksikan pertikaian tersebut. Panglima Ali berlari untuk memohon sembah dan menyerah diri kehadapan OK Saman. Panglima Ali menunduk sembah dan pasrah diberi hukuman jika terbukti bersalah. Dengan rasa kasihan dan bangga terhadap Panglima Ali yang telah berjuang melawa bajak laut. OK Saman menyerahkan masalah ini kepada yang tertinggi yaitu Sultan Siak Sri Indera Pura (Sultan Syarif Kasim).

Beberapa hari kemudian perahu berlayar menuju ke Siak. Tiba di Siak, Panglima Ali dan OK Saman beserta rombongan pembesar negeri Merbau menuju istana Siak untuk menghadap sembah Sultan Syarif Kasim dan melaporkan hasil pekerjaan dalam ketentraman negeri dengan memerintahkan Panglima Ali dan teman-temannya untuk melawan bajak laut.

Dengan berat hati OK Saman memerintahkan Panglima Ali untuk menceritakan segala sesuatu terjadi di bumi Merbau kepada Sultan Syarif Kasim. Setelah mendengarkan semua cerita dari Panglima Ali tentang melawan bajak laut hingga pertikaian berdarah antara Panglima Ali dengan Panglima Abbas. Sultan Syarif Kasim menaikkan pangkat OK Saman menjadi DATUK SETIA INDERA dan Panglima Ali menjadi ORANG KAYA SETIA PATI.

Adapun arti dari DATUK SETIA INDERA adalah seorang pemimpin yang berkepala dingin dan berhati sabar (tidak gegabah) berpendirian dalam mengambil kebijakan, Setia (taat kepada pemimpin).

Adapun arti dari ORANG KAYA SETIA PATI adalah tunduk, taat kepada pemimpin, bekerja untuk negeri tidak mencari nama, tidak takut mati dalam membela kebenaran, ikhlas dan tidak banyak bicara jika berkumpul bersama.(Fy)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Translate

Populer Post

 
Copyright@2012 Moeda Mandiri Cyber Team