Sabtu, 22 Desember 2012

Legenda Dedap Durhaka

melibur.com
pulau dedap
(Mb)–Cerita yang disampaikan secara turun temurun memang tidak sepenuhnya sama seperti yang sebenarnya terjadi pada saat itu. Kali ini cerita rakyat yang ingin disajikan adalah Kisah Dedap Durhaka yang disumpah menjadi Pulau bernama “Pulau Dedap”.

Desa yang sekarang bernama desa Dedap Kecamatan Putri Puyu Kabupaten kepulauan Meranti yang dulunya pada masa awal membangun sebuah desa terdapat hazanah cerita yang harus diceritakan sebagai pedoman hidup. Cerita ini bermula dari keluarga miskin yang terdiri dari kepala keluarga bernama Ujang dan isterinya Topang serta anaknya Dedap atau panggilan manja oleh ibunya adalah Panggang karena Dedap suka makan makanan yang di panggang.
Ekonomi yang lemah dan hasil kebun tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari membuat Dedap yang sudah tumbuh dewasa bersama temannya harus pergi ke hutan belantara Pulau Padang untuk mencari rotan dan berburu.

Disuatu hari Dedap dan alang pergi ke hutan berburu kekah dan burung dengan membawa sumpitan yang biasa dilakukannya. Di tengah hutan cuaca menjadi mendung dan gelap, tidak lama kemudian gerimis mulai berjatuhan, Dedap dan alang bersiap membuat tempat berlindung dengan daun pinang hutan dan terperangkap dalam hujan yang deras.
Dedap dan Alang tidak bisa berbuat apa-apa lagi yang dilakukan hanya bisa termenung, dalam khayalan Dedap teringat akan kecantikan si lindung Bulan. Hujan semakin deras hari semakin malam Alang mengajak Dedap pulang meski tidak mendapatkan hasil perburuan.

Tiba di rumah dengan tubuh basah kuyup Dedap mebersihkan tubuhnya dan mengantikan pakaiannya. Di malam itu Dedap tidak bisa memejamkan mata karena selalu terbayang si Lindung Bulan gadis desa yang cantik jelita tinggal di desa tanjung padang putri Batin Tenggoro yang juga orang kaya di Tanjung Padang.

Keesokan harinya Dedap segera berangkat ke Tanjung padang untuk menyatakannya cinta kepada gadis pujaan hatinya. Tiba disana Dedap berkeliling mencari si Lindung Bulan, terlihat dikeramaian tempat membuat anyaman atap dari daun rumbia si Lindung Bulan tertawa bahagia bersama teman-temannya. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Dedap dan dia pun menyatakan cintanya kepada si Lindung Bulan.
Dengan tersipu malu si Lindung Bulan menerima cinta Dedap, betapa bahagianya yang dirasakan oleh Dedap pada hari itu. Dengan hati yang berbunga-bunga Dedap kini menjadi anak yang ceria dan rajin menolong Orang tua, patuh, taat dan tidak pernah membantah kata-kata orang tuanya.

Dedap kembali ingin berjumpa si Lindung Bulan untuk mengobati kerinduannya dengan menggunakan sampan. Tiba Tanjung Padang Dedap melintasi di kediaman Batin Tenggoro untuk melihat si Lindung Bulan, ternyata si Lindung Bulan menunggu kedatangan Dedap selama ini.

Bagaikan pungguk merindukan bulan mereka pun bercumbu mesra. Masyarakat yang melihat pasangan kekasih itu mulai menjadi bahan pembicaraan sehingga terdengar oleh Jelutung pemuda Tanjung Padang yang juga menyimpan rasa terhadap si Lindung Bulan. Jelutung menyuruh anak kecil untuk bisa bertemu empat mata dengan Dedap.
Dengan berat hati si Lindung Bulan pulang karena dia tidak rela melepaskan Dedap sendirian untuk bertemu dengan Jelutung. Di suatu tempat tersembunyi Dedap bertemu Jelutung yang sombong, angkuh dan kasar cara memperlakukannya sehingga Dedap dipukul oleh Jelutung dan teman-temannya. Dedap dalam keadaan babak belur diancam oleh Jelutung agar tidak mengganggu si Lindung Bulan lagi.

Dedap pulang dengan perasaan gundah gulana karena kecewa cintanya terhalang dan tergores luka yang tidak mungkin dilupakan. Dedap yang dulu periang sekarang berubah menjadi anak yang pendiam, suka termenung sendiri. Waktu terus berlalu, Dedap sudah tidak kuat lagi mengurung diri dirumah dan timbul rasa ingin bunuh diri begitu juga yang dirasakan oleh si Lindung Bulan.

Dedap yang kecewa merasa hina dan tidak berdaya membuat Dedap ingin merantau dinegeri orang untuk bisa merubah nasibnya. Dedap pun mengutarakan keinginannya kepada kedua orang tuanya. Di malam hari Dedap menemui ayah dan ibunya. Dedap pun berkata. “Wahai ibu dan ayah. Telah lama aku ingin merantau untuk mengadu nasib di negeri orang, jika aku jadi orang yang berhasil pasti aku akan pulang”. “Berat rasanya hati ini melepaskan engkau anak semata wayangku”. Jawab Ibu. “lagi pula nak, disini maupun ditempat orang tidak ada bedanya”. Kata ayahnya pula.

Kembali Dedap menjawab. “Tapi keadaan disini dengan suasana disana berbeda, jika disini kita masih malu mengerjakan sesuatu, tetapi di rantauan akan lebih gigih karena rasa rindu akan halaman kampung mendorong semangat untuk mencari rezeki yang lebih”.

Perdebatan berlangsung lama antara anak dan orang tuanya, sehingga ibu dan ayahnya merelakan Dedap pergi merantau. Dengan berbekalkan nasehat dan petuah dari ibu dan ayahnya, Dedap nekad pergi berlayar dengan menggunakan kapal tongkang yang sudah biasa singgah di desanya untuk membeli rotan dan hasil hutan serta membawa penumpang yang hendak pergi ke singapura dan melaka (malaysia).

Dedap yang masih berumur 12 tahun pergi merantau tanpa membawa uang tetapi hanya perbekalan makanan kesukaan Dedap yang dimasak oleh ibunya berupa panggang kukah (sejenis burung yang dipanggang) dan pais keluang (sejenis kelelawar berukuran besar yang dibungkug menggunakan upih daun pinang dan dipanggang). Di dalam kapal Dedap mencoba membantu pekerjaan seperti memasak, mencuci piring, menimba air, mengangkat barang serta melayani penumpang yang memerlukan bantuan.

Tanpa disadari ada saudagar cina yang kaya selalu memperhatikan Dedap, sehingga dia mulai tertarik untuk mempekerjakan Dedap di toko barang pecah belah miliknya yang berada di Singapura. Dedap yang teringat akan nasehat orang tuanya bahwa apabila di negeri orang jangan lupa mencari Induk Semang (pengganti orangtua/ jadi anak angkat) dedap pun setuju ajakan dari Saudagar Cina tersebut. Tiba di singapura saudagar cina membawa Dedap ke tempat usahanya, disana Dedap diberi syarat dan ketentuan disamping itu juga gaji perbulan serta makan, tempat tinggal serta pakaian Dedap ditanggung oleh Saudagar Cina. Setelah menyetujui segala persyaratan yang diberikan oleh saudagar cina, dedap pun mulai bekerja sebagaimana semestinya.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun usaha Saudagar Cina makin maju dan makin berkembang. Karena kerja keras dan kejujurannya, Dedap diangkat menjadi orang kepercayaan Saudagar Cina. Saudagar Cina yang telah tua dan tidak bisa lagi mengurus segala urusan untuk kelancaran usahanya sehingga memaksa untuk mengumpulkan kelurganya termasuk Dedap dengan tujuan membicarakan tentang  pembagian harta. Gaji Dedap yang terkumpul selama 8 tahun akan dibagikan serta Dedap mendapatkan 1/3 dari harta kekayaan Saudagar Cina dan 2/3 untuk keluarga Saudagar Cina.

Sudah hampir 10 tahun lamanya Dedap merantau, timbul dibenaknya rasa ingin pulang kekampung halaman. Meskipun saudagar cina kembali mengajak Dedap untuk tetap tinggal dan melanjutkan usahanya tetap saja ditolak oleh Dedap.

Beberapa waktu yang tidak lama Dedap yang sudah memiliki kapal tongkang sendiri membuat pekerjaan dengan Saudagar Tinggi sehingga Dedap merubah namanya dengan panggilan Saudagar Muda. Setelah 3 bulan menjalin hubungan kerja yang baik bersama Saudagar Tinggi dan usahanya pun mendapat keuntungan yang besar. Saudagar Tinggi berniat untuk menjodohkan Dedap dengan anaknya yang bernama Putri linggi.

Keinginan Dedap pun tercapai untuk segera mendapatkan pendamping hidup. Akhirnya diadakan acara pernikahan antara Dedap dan Putri Linggi yang berlangsung selama seminggu dengan beraneka ragam acara. Sebagai pengantin baru, Saudagar Tinggi menghadiahkan sebuah kapal pesiar yang dibuat seperti layaknya sebuah istana untuk berbulan madu.

Setelah beberapa bulan berlayar sampai memasuki Selat Bengkalis, kapal tersebut harus berlabuh di Tanjung Sekodi karena menunggu air pasang baru bisa masuk ke Selat Bengkalis. Dari kejauhan seorang anak buah kapal melihat perahu kecil menuju ke kapal pesiar dan berusaha merapat. Ternyata didalam perahu kecil ada seorang wanita cantik yang dengan sengaja diantar oleh nelayan untuk meminta bantuan, dengan alasan bahwa perbekalan air minum di kapalnya yang berada di sebalik pulau Bengkalis telah habis.

Dedap pun mulai menunjukkan kebolehannya sebagai pelaut sejati dengan menjatuhkan lingkaran rotan saga ke air laut dan menyuruh wanita itu mengambil dan meminumnya, di dalam lingkaran rotan saga tersebut air laut bisa berubah menjadi air tawar yang bisa diminum. Wanita itu pun tertarik atas kebolehan Dedap sehingga dia mulai menggoda Dedap karena wanita itu adalah Sri Jawa yang selalu mengejar Saudagar Muda yang menjadi targetnya.

Dedap pun tergoda sehingga Sri Jawa dijadikannya istri yang kedua, sementara putri linggi tidak bisa berbuat banyak karena Putri Linggi sedang hamil. Beberapa hari kemudian Dedap memerintahkan agar berlayar masuk ke Selat Bengkalis karena dihati Dedap ingin menjenguk orang tuanya tetapi tidak diberitahu kepada siapapun tentang niatnya itu. Selain dari itu Dedap ingin menunjukkan kepada semua orang di kampungnya bahwa Dedap yang dulunya selalu dihina dan dicaci maki. Keangkuhan dan kesombongan mulai timbul di benak Dedap.

Setelah kapal Dedap berlabuh di salah satu muara sungai. Dedap memerintahkan 2 orang anak buah kapal untuk mengambil air taawar untuk perbekalan minum. Dengan waktu yang tidak begitu lama, tersebar kabar keseluruh kampung tentang kepulangan Dedap yang sudah kaya raya dan terdengar oleh kedua orang tuanya.

Mendengar berita tersebut orang tua Dedap bersiap-siap untuk bertemu anak semata wayangnya yang sudah lama dirindukannya. Dengan membawa masakan kesukaan Dedap yaitu Panggan kukah dan Pais Keluang, langsung saja kedua orang tuanya turun kelaut. Didalam perahu kecil kedua orang tuanya terbayang betapa gagah dan tampan Dedap.

Apabila perahu kecil mendekat kapal Pesiar, kedua orang tuanya yang sudah tua, kulit berkedut dan berpakain kumuh dimatanya berkaca-kaca tanda kerinduan bercampur kebahagian sehingga menjadi salah tingkah. Datang anak buah kapal menanyakan maksud kedatangan orang tua ini. Ibu Dedap menjawab. “Kami ingin menemui anak kami Si dedap”. Anak buah kapal kembali menjawab. ”Bapak dan Ibu sabar ya! Saya akan beritahu kepada tuan Saudagar Muda dulu”.

Dengan bantuan Ali yang juga penduduk sekitar, ibu dan ayah Dedap berangkat untuk menemui anaknya yang selama ini disangka telah mati karena sudah bertahun lamanya tidak memberi kabar.

Dedap yang masih memperlihatkan keangkuhannya berdiri ditepi kapalnya, sang ibu pun berteriak memanggil Dedap : “Dedap, Dedap anakku! Ini ibumu dan ayahmu datang nak!”. Dedap yang sebenarnya sudah tahu kedatangan orang tuanya dan mendengar panggilan untuknya tetapi Dedap berpura-pura tidak tahu.

Dedap yang melihat orang tuanya datang dan semakin mendekat, lalu Dedap berpaling kebelakang sambil bercerita dengan istrinya. Sementara istrinya mengetahui orang tua itu memanggil suaminya itu Dedap, istri Dedap pun menyuruh Dedap untuk menjawab. “Perempuan tua itu memanggil dirimu Dedap dan dia mengaku sebagai orang tua mu”. Kata Putri lingga. “Ah, engkau jangan percaya! Tidak mungkin ibuku seperti itu.”

Ali yang bersama orang tuanya berkata. ”Wahai Saudagar Muda! Bukankah kamu bernama Dedap?”  Dedap menjawab dengan mata melotot “Ada apa?”. “ini ibu dan ayahmu mau menyongsong kedatangan anaknya dengan membawa makanan.”  Kata Ali. “ Tidak! Mereka bukan orang tuaku”. Jawab Dedap dengan lancang.

Benar nak ini orang tuamu, tidak ingatkah kamu ketika kamu ingin merantau, kami menyiapkan kamu makanan kesukaanmu nak” . Kata ibunya sambil memberinya makanan kesukaan Dedap, tetapi Dedap malah menolak makanan itu sehingga makanan tersebut jatuh beserta ibunya.

Benar Dedap! Kami orang tuamu, cobalah engkau lihat dengan baik-baik Dedap” Kata ayahnya beriba-iba. “Tidak mungkin! Orang tuaku sudah mati”. Jawab Dedap yang sedang malu pada istrinya karena keadaan orang tuanya. “tidak Dedap, kami masih hidup, karena dilanda penderitaan yang berkepanjangan sehingga membuat kami menjadi begini”. Kata ibunya sambil menangis.

Dedap, ini aku Ali, teman dekat rumahmu. Ingatlah Dedap mereka memang orang tuamu” kata Ali. “Bang! bang! Barangkali benar itu orang tua abang”. Kata istri Dedap. “Tidak! Orang tuaku telah mati, mereka ini orang gelandangan yang melihat aku telah kaya dan mengaku sebagai orang tuaku”.

Pertengkaran yang semakin memuncak itu menyebabkan semakin banyak orang berdatangan. Dedap yang ingin menjauhkan diri dari kerumunan orang banyak, akan tetapi sang ibu yang sangat rindu akan si Dedap bergantung memegang celana Dedap dan berkata.” Aku ini ibu yang mengandung dan menyusukanmu.” “Dusta, bangsat tidak tahu diuntung”. Seru Dedap sambil menolak ibunya sehingga tersungkur.

Ali datang membantu sang ibu berdiri dan berkata. “sabarlah ibu, jika dia tidak mengakui, apa boleh buat”. “atau engkau bukan anakku?” Kata ibunya yang sedang marah. “Ya! Aku bukan anakmu” jawab Dedap. “Coba engkau perlihatkan ada bekas luka besar dibetis kirimu karena terkena kaca sewaktu kamu masih kecil”. Kata sang ibu yang makin marah.
Sejenak Dedap berdiam diri, istrinya pun berkata “Memang benar apa yang dikatakan ibu itu”. “Kalau tidak percaya, mari kita sama-sama saksikan” kata ibunya. “mengakulah bang, tidak perlu malu”. Kata istrinya. “Menurut kami lebih baik Saudagar Muda mengakui bahwa mereka orang tuamu yang sebenarnya”. Kata salah seorang anak buah kapalnya.

Mana mungkin kalian semua lebih tahu dari pada aku, tidak mungkin aku yang setampan dan sekaya ini memiliki orang tua sejelek dan sebangsat mereka”. Bentak Dedap. “tidak ingatkah engkau ketika ingin merantau aku bekali kau dengan panggang kukah dan pais keluang”. Kata ibunya sambil menangis. “jika dia tidak mau mengaku, tidak perlu dipaksa”. Kata ayahnya.

Memang aku tidak akan mengakui kalian orang  tuaku, karena orang tuaku telah mati, kalian ini bangsat, penipu dan hanya mengharapkan harta kekayaanku, pergi! Pergi kalian dari sini!”. Seru Dedap sambil menolak ayah dan ibunya turun dari kapal.

Mengalami perlakuan Dedap yang durhaka itu kedua insan yang malang pulang dengan kekecewaan yang mendalam. Tiba di muara sungai, sang ibupun mengadahkan tangan seraya berdoa kepada Tuhan : “Wahai Tuhan Yang Maha Kuasa dengarkanlah pengaduan hambamu ini. Engkau Yang Mengetahui. Aku yang telah mengandung anakku selama 9 bulan dengan bersusah payah dan telah melahirkanya dengan menyambung nyawa serta aku korbankan air susuku untuk membesarkannya. Kami pelihara dia dengan penuh kasih sayang”. “Tidakkah aku relakan air susuku yang dihisap oleh Dedap bertahun-tahun”. Kata sang ibu murka sambil mengoyangkan kedua susunya dan mengangkat kelangit.

Engkau timpakan malapetaka yang  maha dahsyat kepada anakku Dedap Durhaka. Engkau Yang Maha Perkasa dan Maha Adil”. Siap ibunya berdoa, tibalah angin kencang disertai kilat dan petri menyambar, kapal pesiar bagaikan istana berjalan ikut berputar-putar dibawa angin kencang dan hampir karam serta menenggelamkan perahu kecil milik orang tuanya yang sampai saat ini di muara sungai Desa Dedap terdapat beting yang hampir menutupi muara tersebut.

Dedap pun berseru memohon ampun pada ibunya tetapi ibunya tidak peduli. Sang ayah yang merasa kasihan atas musibah yang menimpa Dedap menyuruh istrinya agar mengampuni Dedap. Angin semakin kencang kapal Dedap bersama 12 orang penumpang tenggelam ditelan lautan. Setelah beberapa lama tepat pada tenggelamnya kapal Dedap timbullah pulau yang bernama Pulau Dedap dan beberapa tahun kemudian di atas pulau tersebut tumbuh pohon pelam atau mangga bercabang 2. Cabang yang pertama tumbuh mengarah kelaut dan buahnya terasa asam dan cabang satunya lagi mengarah ke darat dan buahnya terasa manis.

Buah mangga yang terasa asam menggambarkan ibunya yang terlanjur sakit hati tidak mau mengampuni anaknya sedangkan buah mangga yang terasa manis tersebut menggambarkan ayah Dedap yang masih punya rasa belas kasihan dan mau mengampuni anaknya.
Semoga cerita ini menjadi pedoman bagi generasi muda untuk tetap selalu menghormati dan menyayangi orang tua.(Fahri)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Translate

Populer Post

 
Copyright@2012 Moeda Mandiri Cyber Team