Senin, 05 November 2012

Si Cengeng Bukan Penyerah

Cuplikan Tulisan : Si Cengeng Bukan Penyerah

Masih terdengar riuh dalam ingatanku ketika suara tangisku saat itu selalu mengisi riuhnya ruangan sekolah, akulah si cengeng yang tak pernah mengalah dalam kesempatan apapun,bermain, belajar. ketika masih berseragam merah putih ibu guru selalu menuntutku  untuk bisa menulis dan mengeja huruf, kemudian dengan rasa semangat  aku menggoreskan ujung pensilku hingga patah,….kemudian aku harus merautnya kembali, berulang-ulang aku mengalami hal tersebut, buku yang ku tulis kini sudah seperti stempel tak berwarna  dari permukaan awal hingga beberapa lembar karena kerasnya aku menekan ujung pensil. Kapan aku bisa menulis jika harus seperti ini dalam hatiku, masih terngiang hingga saat ini ibu guru mengajarkan ku untuk bersabar……

 INI BUDI, INI WATI, budi dan wati pergi kesekolah,INI SENDOK…SEEE….NNN…DDook…..SUDU.terdengar riuh tawa anak-anak ketika ibu guru menyebut sendok dengan bahasa sehari-hari kami yaitu sudu.hmmmm…..tapi apalah arti dari rasa semangat itu jika aku harus terbaring selama tiga bulan dengan tubuh yang penuh dengan benjolan-benjolan sebesar ibu jari, yang mungkin saat itu aku mengenal sakit ku itu dengan penyakit buah kayu atau lebih dikenal dengan nama penyakit cacar. Rasa sedih terus  menyelimuti hari-hariku, rasa ingin cepat sembuh dan bertemu teman-teman untuk bisa bermain dan belajar bersama temen-temen menjadi motifasiku saat itu. Dengan sabar seorang ibu yang ku kagumi  merawat dan memberi semangat. Waktu yang ku tunggu-tunggu pun tiba aku sudah mulai beraktifitas bersama temen-temen disekolah tapi rasa sedih itu tak sedikit pun menghilang dari pikiranku karena saat itu adalah pembagian rapor, hari-hari yang ditunggu-tunggu anak seluruh sekolah.semua terlihat bahagia tapi tidak dengan diriku, saat itu aku malu,sedih karena aku di nyatakan tidak naik kelas karena absen masa ijinku terlalu banyak disaat aku sakit. Tapi itu tidak mengurungkan semangat belajar ku terbukti ketika aku mulai memasuki masa tahun ajaran baru aku selalu mendapatkan pringkat pertama, ya akulah sang juara satu hingga tiga cawu aku rebut,mungkin sekarang lebih dikenal dengan semester.

Jika mengingat masa kecilku aku tidak habis-habis nya tersenyum, hingga aku bisa melanjutkan gelar sarjanaku di kota seribu kenangan yaitu Yogyakarta. Cinta, persahabatan dan kejahilanku terukir dikota tersebut. Masih ku ingat saat pagi itu hujan masih menyelimuti kota gudeg, aku merasa suntuk dikontrakan ingin melihat seluruh bacaan koleksi gratisku, dimana lagi bukan di Gramedia,pikirku. aku sedikit hobi membaca hingga aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk menbaca di gramedia yang terletak di perempatan kampus yang menuju kampus UGM. Aku masih mengingat jelas buku yang ku baca saat itu, cerita yang ditulis oleh "si daun kering". Aku selalu berpikir kapan aku bisa menulis seperti beliau, apakah aku dititiskan bakat seorang penulis, gimana mungkin aku menjadi seorang penulis karena tulisan tanganku saja hanya aku yang bisa membaca, aku hanya tertawa geli di hati tapi dihati kecilku yang terdalam, mungkin saja suatu saat……
Jika aku bisa menghapus air mataku di saat aku masih belajar menulis dan membaca dengan membuktikan aku lah sang juara, kenapa aku harus menyerah???aku ingin menantikan kehadiran  rasa semangat yang bisa ku tuliskan untuk diriku dan setetes tinta untuk yang tidak ada……….
Aku hanya ingin tersenyum dengan sedikit coretan yang aku gores agar aku bisa memberikan semangat untuk diriku dan yang mengelilingiku……..SEMANGAT itulah kata yang tertulis dihatiku………
Biarlah apa yang kita lakukan hari ini, terlihat kecil bagi orang lain tapi mengajarkan kita sebuah rasa semangat dan penuh senyuman untuk hidup yang lebih sempurna di hari esok…(Cupliikan : Si Cengeng Bukan Penyerah Oleh R*Wyn)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Translate

Populer Post

 
Copyright@2012 Moeda Mandiri Cyber Team